Mode Lambat dan Wawas Lingkungan sebagai Kearifan Lokal dalam Kriya Tekstil

Authors

  • Lusiana Limono Forum Kriya Kontemporer Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.36806/psnpu.v4i.150

Keywords:

kearifan lokal, lingkungan, mode lambat, perubahan iklim, SDG's, kriya tekstil

Abstract

Kain sebagai bahan utama produk industri pakaian bisa menjadi artefak budaya yang mencerminkan kondisi masyarakat pada masanya. Sebagai artefak budaya, kehadiran kain buatan artisan dan kriyawan tekstil sebagai alternatif kebutuhan sandang, proses produksinya cenderung lambat. Hal ini berkebalikan dengan industri pakaian jadi yang serba cepat, berumur pendek, serta berdampak pada lingkungan. Kain hasil kriya tekstil merupakan kelanjutan tradisi yang dihidupi terutama oleh perempuan, seperti batik dan tenun. Penelitian ini menelusuri tradisi pola produksi dan konsumsi kain sebagai kebutuhan sandang masyarakat. Pengamatan dan wawancara dilakukan secara langsung selama residensi pada Juli 2018 hingga September 2018. Penelitian berfokus pada praktik kriya tekstil tenun di Lembata, NTT. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa perempuan menjadi garda depan penjaga budaya dan mode lambat merupakan kearifan lokal yang sejalan dengan Tujuan Global SDG’s poin ke-12: produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab. Mode lambat dapat menjadi alternatif untuk masa depan yang lebih baik dan lebih wawas lingkungan.

Downloads

Published

2024-07-02