Estetika yang Berpihak: Seni Partisipatif sebagai Tanggapan atas Elitisme Seni Rupa

Authors

  • Deborah Ram Mozes Institut Tekonolgi Bandung

DOI:

https://doi.org/10.36806/psnpu.v5i.163

Keywords:

Seni partisipatif, kolusi, nepotisme, estetika urban, resistensi

Abstract

Di dunia seni rupa Indonesia, galeri yang berkilau bukanlah tempat suci bagi dunia penciptaan, melainkan panggung berupa topeng yang berkuasa. Kolusi dan nepotisme, bukan bakat, menjaga gerbang yang menjadikan seni hak istimewa kaum terhubung. Lomba seni yang naif dianggap tolok ukur kejeniusan, sekaligus mencemooh esensi penciptaan yang tidak terukur. Namun demikian, di gang-gang urban, seni partisipatif, seperti mural, instalasi kolektif bangkit sebagai bentuk pembangkangan, terasa lebih jujur daripada sorot lampu ruang institusional. Penelitian ini menggali bagaimana seni partisipatif melawan cengkeraman estetika elitis. Lewat studi kasus seni jalanan Jakarta, analisis wacana praktik kuratorial, dan refleksi lokakarya komunitas, penelitian ini berusaha membedah ketimpangan ekosistem seni yang terjadi. Kebaruannya terletak pada penelusuran akar seni partisipatif dalam resistensi historis terhadap struktur budaya feodal. Temuan mengungkap bagaimana jaringan patronase membungkam suara baru, sementara praktik partisipatif membentuk makna kolektif, lepas dari tirani kuratorial. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan seni bukan di galeri, melainkan di ruang bersama tempat penciptaan terjadi guna menjawab kebutuhan rakyat, bukan kekuasaan. Makalah ini membawa pertanyaab: untuk siapa seni bernapas ketika jiwanya diperdagangkan di pasar koneksi?

Downloads

Published

2025-07-07